Sunday, July 24, 2016

SAYANG SAYANG DISAYANG

Sayang sayang disayang
Aku disayang Tuhan
Aku diangkat jadi anak-Nya
Aku disayang Tuhan

Sayang sayang disayang
Aku disayang Tuhan
Aku diangkat jadi anak-Nya
Aku disayang Tuhan


Glori glori glori haleluya
Glori glori puji Tuhan
Glori glori glori haleluya
Glori glori puji Tuhan

SRENGENGE NYUNAR

Srengenge nyunar kanthi mulya
Angine midhit klawan rena
Manuke ngoceh ana ing wit-witan
Kewane nyenggut ana ing pasuketan

Kabeh padha muji Allah kang Mulya
Kabeh padha muji Allah kang Mulya

Matahari bersinar trang
Burung berkicaulah senang
Harum semerbaklah
Bunga di padang
Semuanya mengajak
Kepada kita
'Kan memuji nama
Tuhan yang esa
'Kan memuji nama
Tuhan yang esa

Lihat Video lagunya disini

BAPAK ABRAHAM

Bapak Abraham mempunyai
Banyak sekali anak-anak
Aku salah satu dan kau juga
Mari puji Tuhan

(tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri, putar-putar) kembali ke depan

(tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri, putar-putar lalu duduk)

DITARIK-TARIK

Ditarik-tarik mengapa tak mau datang
Di dorong-dorong mengapa tak mau maju
Tuhan Yesus telah lama menunggu
Jangan nanti ketinggalan
Katanya…….., (Kata Tuhan Yesus)
Majulah…….., (ayo maju terus)
Tangan Tuhan terbuka bagimu
Katanya………, (Kata Tuhan Yesus)
Majulah…….., (ayo maju terus)

Janganlah nanti Engkau ketinggalan.

DENGAR DIA PANGGIL NAMA SAYA

Dengar Dia panggil nama saya
Dengar dia panggil namamu
Dengar Dia panggil nama saya
juga dia panggil namamu

ku jawab ya . . . ya . . . ya . . . (2x)
ku jawab ya Tuhan (2X )

ku jawab ya . . . ya . . . ya

ALAT PERAGA DALAM MENGAJAR KELAS SEKOLAH MINGGU

Bagi saya mengajar kelas sekolah minggu dengan menggunakan alat peraga menjadi hal yang mutlak. Kenapa saya bilang mutlak karena untuk menjaga anak sekolah minggu tetap tenang dan penuh perhatian selama 10-15 menit dalam menyampaikan firman bukanlah perkara mudah. Oleh karenanya alat peraga menjadi yang mutlak dibutuhkan dalam pengajaran dalam kelas sekolah minggu. Dibawah ini beberapa manfaat dengan adanya alat peraga dalam mengajar kelas sekolah minggu :
  1. Mempermudah guru dalam menyampaikan firman Tuhan.
  2. Mempermudah murid dalam mengerti pengajaran yang diterima
  3. Melalui alat peraga pengajaran firman Tuhan dapat dilakukan lebih menarik
  4. Anak akan lebih tenang dan fokus selama mendengarkan firman Tuhan (catatan: selama alat peraga dibuat dan disajikan semenarik mungkin).
  5. Menolong anak sekolah minggu mengingat pengajaran dalam waktu yang cukup lama bahkan bisa seumur hidupnya.
Jika manfaatnya demikian besar, maka setiap Guru sekolah minggu harus dapat menyiapkan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Yang saya maksud sungguh-sungguh adalah guru tidak hanya cukup membaca firman Tuhan, membuat materi firman hanya dalam garis-garis besar pengajaran namun juga mengembangkan kreatifitas pengajarannya agar makna pengajaran Firman Tuhan dapat diterima secara jelas. Apalagi jika anda mengajar kelas sekolah minggu yang berusia diatas 1 tahun sampai dengan 5 tahun, alat peraga akan sangat membantu anda dalam menyampaikan firman Tuhan.
Pertanyaannya, apa saja yang dapat digunakan sebagai alat peraga?
  1. Diri andalah alat peraga yang efektif dan ampuh. Kita diberi mulut, tangan, kaki, tubuh, pikiran dengan segala potensi yang ada dari Tuhan. Sudah banyak ilmu yang dibagi di internet bagaimana bercerita dengan mimik muka yang berbeda, menggunakan intonasi yang berbeda, mendongeng, dsb.
  2. Gunakan alam sekitar anda untuk dijadikan alat peraga. Alam sekitar kita bisa tanaman, batu, tanah, pasir, air. Oleh karena itu baik kalau, kadangkala kelas sekolah minggu itu tidak hanya berada di dalam ruangan, namun sekali-kali ajaklah anak-anak untuk menyatu dengan alam; mengajak mereka pergi dan mengenali alam.
  3. Menggunakan bahan-bahan sisa yang dapat di daur ulang. Bahan sisa yang dapat dipakai untuk membuat alat-alat peraga bisa ditemukan disekitar, asal anda juga peka, kreatif dan mau belajar hal-hal baru melalui bahan-bahan bekas.
  4. Membeli alat peraga yang sudah dijual di toko-toko. Kalau yang satu ini tentunya, "asal ada uang berapapun harga alat peraga akan terbeli"
Untuk menggunakan alat peraga secara efektif dan efisien maka tidak dapat tidak, guru sekolah minggu dan pengurusnya perlu mengadakan persiapan rutin agar tujuannya dapat tercapai dalam mengajar sekolah minggu.

Friday, May 6, 2016

JANGAN LELAH MENGAJAR SEKOLAH MINGGU

Mengajar sekolah minggu adalah pengalaman yang luar biasa. Pengalaman ini aku rasakan sejak diminta untuk terlibat mengajar sekolah minggu di gerejaku. Sebuah gereja kecil yang berada di sebuah desa dekat pegunungan kapur utara Jawa Tengah.
Pertama kali mengajar sekolah minggu sebenarnya bukan karena panggilan iman, tetapi karena terpaksa. Bagaimana tidak, karena waktu itu aku baru duduk di kelas 2 SMP, belum tahu apa-apa. Apalagi tidak ada yang mengajak dan membimbingku. Semua serba terpaksa, terpaksa aku lakukan karena aku prihatin, kadangkala guru yang mengajar sekolah minggu tidak datang tanpa pemberitahuan. Akibatnya, anak-anak sekolah minggu yang sudah dengan sukacita ke gereja ingin mendengarkan firman Tuhan jadi tidak bersemangat, liar dan mengalami kekecewaan.
Minimnya perhatian Majelis Gereja terhadap keadaan ini semakin membuatku prihatin, tidak ada sama sekali ide yang muncul untuk menjawab persoalan tersebut. Apakah itu kecenderungan pelayanan di gereja yang ada di desa, khususnya kepada kelas sekolah minggu?

Oleh karena situasi itulah, maka sekali lagi, aku terpaksa mengajar sekolah minggu. Aku paksakan diri untuk berani tampil di depan anak-anak dengan bekal seadanya. Untung setelah itu ada salah satu temen persekutuan yang mau membantu ikut mengajar sehingga bisa bergantian setiap minggunya. Sekalipun dengan bekal seadanya justru membantuku untuk berkembang secara pribadi. 
Yang dimaksud berkembang adalah :
  • Awalnya tidak berani tampil dimuka umum (khususnya anak-anak) karena biasa menjadi berani;
  • Awalnya kalau cerita hanya membaca akhinya mulai lepas teks dan berupaya menghidupkan cerita-cerita Alkitab dengan beragam cara. 
  • Sampai yang awalnya tidak bisa memetik gitar, mulai belajar secara otodidak memainkan gitar untuk mengiringi pujian di sekolah minggu. Aku masih ingat doaku waktu itu: "Tuhan aku ingin bisa belajar memainkan gitar supaya aku bisa mengiringi pujian sekolah minggu"
Terlebih dari sebenarnya tidak tertarik dengan dunia anak akhirnya ketagihan untuk mengenal lebih dalam dunia anak dan yang paling membahagiakanku adalah anak-anak selalu merindukan kehadiranku.

Oleh karena ketertarikanku itu yang akhirnya menumbuhkan rasa rinduku pula untuk selalu berusaha dapat mengajar, membantu mendampingi guru lain bahkan sampai aku kuliah di Teologi, hampir dua minggu sekali aku sempatkan untuk pulang ke rumah hanya untuk mengajar sekolah minggu. 
Apakah aku pernah mengalami lelah( lelah bukan arti fisik tetapi hati dan pikiran, cenderung bosan)? PERNAH!. Namun demikian justru aku merasa bersalah jika aku tidak bisa mengajar atau sengaja tidak mau mengajar.

Sekarang aku telah menjadi Pendeta jemaat di sebuah gereja disebelah utara kota Solo, tetapi kerinduanku untuk mengajar tidak pernah aku pupus. Bahkan kalau tidak ada jadwal berkotbah, aku selalu meminta guru sekolah minggu untuk ikut mengajar. Sekalipun ada rekan pendeta yang pernah bilang : pendeta kok masih ngajar sekolah minggu...tetapi justru aku bisa bilang bahwa pendeta yang baik adalah pendeta yang tidak hanya berkotbah di atas mimbar gereja tetapi juga bisa berkotbah depan anak-anak sekolah minggu. Karena seorang pendeta harus mau meneladan kristus, yang disegani dan dihormati ketika mengajar di mimbar umum, tetapi juga disayangi oleh anak-anak ketika bercerita didepan anak-anak.
Makanya sampai sekarang sekalipun aku telah menjadi Pendeta, aku selalu berusaha untuk menyempatkan waktu mempersiapkan bahan pengajaran dan mengajar sekolah minggu. Satu hal yang selalu membuatku bersukacita ketika mengajar sekolah minggu, aku mendapatkan sukacita didunia anak dan bersukacita karena anak-anak dapat mengenal Tuhan Yesus melalui aku. Makanya bagi siapapun yang saat ini masih mau mengajar sekolah minggu : "Jangan lelah mengajar sekolah minggu."